Citra pariwisata Kintamani kini tak lagi berjaya seperti pada tahun 90-an lalu. Pada saat itu, jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan sejuk ini mengalami kenaikan yang sangat signifikan, sehingga menyebabkan tumbuhnya pusat-pusat pengembangan bisnis pariwisata di kawasan ini.

Namun, sejalan dengan perkembangan yang terjadi, serta indikasi makin menurunnya kesadaran warga untuk menjaga citra pariwisata, kini kondisi tersebut nyaris hilang. Menjamurnya bangunan melanggar sempadan jurang maupun jalan, serta penataan Kintamani yang belum sesuai dengan harapan menyebabkan citra pariwisata Kintamani mengalami penurunan. Kondisi ini juga berdampak pada anjloknya jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan ini.

Untuk mengembalikan kejayaan pariwisata Kintamani seperti tahun-tahun sebelumnya, sangat diharapkan agar seluruh komponen masyarakat Kintamani dilibatkan dalam pengelolaan Kintamani agar citra pariwisata Kintamani sekitar tahun 90-an kembali bisa dirasakan. Peran serta komponen masyarakat termasuk stakeholder lainnya sangat penting dalam mengembangkan potensi wisata di Kintamani. Selama ini ada kesan pengelolaan wisata Kintamani jalan sendiri-sendiri, sehingga kurang memperoleh dukungan dari stakeholder lainnya. Ke depan, ini harus segera diperbaiki.

Sementara itu, untuk ke depan kini memerlukan paradigma baru untuk mengembangkan kawasan Kintamani sebagai salah satu destinasi wisata terkenal, permasalahan yang dihadapi saat ini adalah masalah tata ruang yang dimiliki Kintamani. Jadi jika tata ruang belum ada, maka akan sangat sulit untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya.

Bali menerima kunjungan wisatawan asal Taiwan sebanyak 65.589 orang selama semester pertama 2010, meningkat 13,10 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 57.994 orang. Wisatawan Taiwan ini seluruhnya datang lewat Bandara Ngurah Rai dengan menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya, hanya seorang yang tercatat lewat pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar.

Taiwan menempati urutan kelima dari sepuluh negara terbanyak memasok wisatawan mancanegara ke Bali setelah Australia, Jepang, Cina dan Malaysia . Negara-negara itu mampu memberikan kontribusi sebesar 5,56 persen dari total wisman yang menikmati keunikan seni budaya Bali sebanyak 1,18 juta selama semester pertama 2010, meningkat 10,23 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya tercatat 1,07 juta orang.

Sementara itu, dari sepuluh negara terbanyak memasok wisman ke Bali enam negara di antaranya mengalami peningkatan yang cukup signifikan dan empat negara mengalami penurunan. Keenam negara yang masyarakatnya makin banyak berwisata ke Bali selain Taiwan juga Singapura yang meningkat 55,36 persen dari 26.702 orang pada semester pertama 2009 menjadi 41.483 orang pada semester pertama 2010, menyusul Australia 53,89 persen dari 180.686 orang menjadi 278.049 orang.

Selain itu juga Cina meningkat 0,33 persen dari 97.930 orang menjadi 98.257 orang, Belanda sebesar 40,53 persen dari 25.676 orang menjadi 36.082 orang dan Inggris 2,19 persen dari 37.701 orang menjadi 38.526 orang.

Sementara empat negara yang mengalami penurunan meliputi Jepang sebesar 22,29 persen dari 154.071 orang pada semester pertama 2009 menjadi hanya 119.772 orang pada semester yang sama 2010. Demikian juga Malaysia turun 6,23 persen dari 73.853 orang menjadi 69.251 orang, Korea Selatan 5,81 persen dari 63.045 orang menjadi 59.384 orang dan Prancis 7,67 persen dari 45.716 orang menjadi 42.211 orang.

Promosi kepariwisataan Bali yang dilakukan pemerintah propinsi bersama para komponen yang bergerak di sektor perpelancongan, masih sangat lemah terutama ke negeri yang potensial memasok wisatawan.

Promosi ke negeri yang potensial memasok wisatawan masih lemah, sehingga menuntut untuk dilakukan peningkatan di masa mendatang. Sementara itu, turis asing yang berlibur ke pulau ini masih didominasi oleh pelancong asal Asia Pasifik dengan lama tinggal yang relatif pendek.

Masyarakat internasional yang datang langsung ke Bali sekitar 58,5 persen berasal dari Asia Pasifik, seperti masyarakat Australia, Korea Selatan, Taiwan, Cina dan Jepang.

Sehubungan dengan itu, diharapkan pelancong asal negara yang jaraknya cukup jauh seperti Eropa, Afrika dan Amerika Serikat, dapat ditingkatkan kedatangannya ke Bali. Itu dapat ditingkatkan, asalkan lebih gencar melakukan promosi kepariwisataan ke negara-negara tersebut.

Kedatangan turis asing ke Bali lima bulan pertama 2010 misalnya, tercatat 926.454 orang. Dari jumlah itu, 542.619 orang atau 58.57 persen di antaranya berasal dari negara di kawasan Asia Pasifik, sementara turis AS hanya 45.165 orang atau 4.88 persen. Masyarakat Eropa yang melakukan perjalanan wisata sambil menikmati keindahan alam dan adat istiadat serta kehidupan masyarakat Bali, mencapai 230.332 orang atau sekitar 24.86 persen dari semua turis asing ke Bali.

Kegiatan promosi kepariwisataan mulai berkurang, sehingga perlu jalan keluarnya supaya promosi kepariwisataan Bali tetap ada ke kantong-kantong pariwisata dunia bahwa Bali itu layak dikunjungi.

Di samping promosi tetap harus gencar, kualitas pelayanan juga harus ditingkatkan sejak turis itu menginjakkan kaki di Bandara Ngurah Rai, serta di hotel tempatnya menginap dan dalam perjalanan selama berada di Pulau Dewata.

Pelaku pariwisata di Buleleng, mengeluhkan adanya aktivitas calo toris yang bebas berkeliaran. Bahkan, calo turis ini kerap kali menawarkan jasa dengan cara paksa dan mencegat rombongan turis yang melintas di jalan raya. Tak hanya itu, ada turis yang sudah mem- booking kamar hotel dan ketika tiba di Buleleng, turis tersebut malah diambil alih para calo ini untuk diarahkan ke hotel lain.

Sementara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng tidak pernah mengatasi permasalahan ini. Padahal, masalah ini jika dibiarkan akan merusak citra pariwisata di Bali Utara. Ketua Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Buleleng, tidak menampik maraknya calo turis yang terus bertambah banyak.

Aktivitas para calo turis ini muncul sejak sejak lama. Calo ini beroperasi di objek pariwisata terkenal di Buleleng seperti di Lovina. Selain itu, mereka juga sering mengejar dan tak segan-segan mencegat rombongan turis yang melintas di jalan raya menuju ke suatu objek wisata di Buleleng.

Dengan mengandalkan modal bahasa Inggris seadanya, para calo ini meyakinkan turis agar jasa mereka digunakan. Jika tawarannya tidak dipenuhi, calo ini nekat memaksa agar turis menggunakan jasa yang ditawarkan. Diharapkan agar Disbudpar Kabupaten Buleleng yang mengurus pariwisata untuk melakukan upaya pencegahan agar praktik calo turis ini tidak makin parah.

Aktivitas para calo touris ini kian meresahkan, karena Disbudpar tidak pernah memberikan peringatan bahwa perlakuan yang mereka lakukan menyimpang dan telah mencoreng citra pariwisata. Dari pihak PHRI Buleleng sudah menyampaikan praktik calo turis yang kian marak kepada Disbupdar. Sayangnya, hingga kini Disbudpar Buleleng tidak menanggapi, sehingga praktik calo turis ini pun kian marak.

Sementara jika PHRI yang terlalu jauh memposisikan diri mengatasi calo turis dikawatirkan akan menimbulkan kesan negatif apalagi aktivitas calo ini menyangkut pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga yang paling tepat mengatasi permasalahan ini adalah Disbupdar maupun polisi pariwisata (Polpar).

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) asal India yang melakukan perjalanan wisata ke Bali melonjak dari sebanyak 2.565 orang selama April 2010 menjadi 4.061 orang bulan berikutnya. Ramainya turis India ke Bali, sesuai keinginan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang ingin membidik lebih banyak masyarakat negeri Baratha itu berlibur ke Bali.

Jero Wacik melontarkan keinginannya untuk bisa membidik lebih banyak orang-orang kaya dari India datang berlibur ke Bali karena memiliki ikatan sejarah terutama terhadap Hindu. Promosi pariwisata yang pernah dilakukan ke negeri itu, tampaknya sudah memberikan hasil walaupun masih perlu ditingkatkan, karena sesuai laporan Dinas Pariwisata Daerah Bali, turis India ke Bali mencapai 14.116 orang (Januari – Mei 2010).

Usaha akomodasi perhotelan di Bali menyambut baik, usaha masyarakat maupun tokoh-tokoh spiritual yang ada di daerah ini, ikut mengembangkan pariwisata sehingga mampu memberikan kedamaian kepada semua pihak. Adanya hubungan baik yang ditindaklanjuti dengan kerja sama kebudayaan antara Bali (Indonesia) dan India maka makin menyatu antarkedua negara, maka diharapkan akan menambah gairah bagi rakyat yang berpenghasilan tinggi India datang ke Bali.

Adanya pusat-pusat kebudayaan India dengan praktik yoga dengan mendatangkan pelatih dari negeri seberang itu, otomatis akan mampu memberikan informasi tentang budaya Bali setelah mereka kembali ke India .

Wisatawan yang datang ke Kintamani, umumnya hanya ingin menyaksikan keindahan panorama alam gunung dan Danau Batur dari objek wisata Penelokan-Desa Batur. Padahal sesungguhnya bagian paling indah yang bisa disaksikan oleh wisatawan jika ingin datang ke Kintamani adalah dengan berkunjung ke Kintamani Timur.

Karena adanya kendala sarana prasarana seperti jalan yang masih belum memadai, ditambah lokasinya yang harus dicapai dengan cara jalan kaki atau mendaki, keindahan Kintamani Timur belum bisa digarap dengan sempurna. Potensi yang dimiliki sangat besar, bahkan jauh lebih indah dibandingkan dengan pemandangan dari Penelokan.

Sementara itu, untuk bisa menyaksikan keindahan panorama alam di Kintamani Timur tersebut diperlukan perjuangan keras untuk mencapai titik yang diinginkan. Wisatawan harus melakukan pendakian melalui Desa Songan dan sekitarnya. Memang perjalanannya cukup melelahkan, namun segala kelelahan tersebut akan terobati setelah menyaksikan keindahan panorama alam di ujung timur.

Dari kawasan ini, dapat menyaksikan hamparan laut, serta hamparan yang sangat indah yang sulit ditemukan di tempat lain.

Mengingat potensi yang dimiliki tersebut sangat besar dan potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata, seharusnya Pemkab Bangli maupun Pemprop Bali turun tangan untuk mempersiapkan sarana dan prasarana, khususnya jalan menuju lereng sebelah timur Kintamani. Ini sangat perlu dilakukan jika ingin menambah jumlah destinasi wisata di Kintamani.

Gemerlap pariwisata Bali mengundang usaha pendukungnya. Jasa angkutan menjadi salah satu sektor usaha yang kian marak. Banyak jasa angkutan dan penyewaan kendaraan yang bodong. Bahkan, disinyalir kini banyak angkutan pariwisata mewah bodong juga beroperasi.

Kini banyak layanan jasa angkutan yang mengoperasikan kendaraan mewah seperti limosine. Mereka beroperasi tidak memiliki izin alias bodong. Angkutan mewah bodong ini tentu saja sangat merugikan angkutan resmi dan pemerintah.

Kendaraan mewah ini kebanyakan berasal dari luar Bali dan menggunakan plat hitam. Mereka menyamarkan praktiknya tersebut seperti kendaraan pribadi. Bisa dibayangkan berapa besar hilangnya pendapatan daerah dari praktik ilegal seperti ini. Praktik seperti ini harus segera ditertibkan.
Adapun jumlah kendaraan sewa di Bali yang memiliki izin berjumlah 4.444 kendaraan, namun jumlah kendaraan sewa yang ilegal jumlahnya jauh lebih banyak. Kita perkirakan jumlah kendaraan ilegal bisa mencapai angka 200 persen dari yang resmi.

Misalkan, kendaraan sewa di sektor pariwisata, jika ada 1.600 vila dan tiap vila dilayani oleh 2 kendaraan sewa, berarti jumlahnya saja sudah 3.200. Belum lagi kendaraan sewa yang beroperasi di jalan-jalan dan hotel. Tim yustisi yang dibentuk gubernur dalam tahap awal baru menyasar taksi di Bali, namun selanjutnya akan beralih ke penataan angkutan wisata.

Diharapkan dengan penataan angkutan di Bali dengan baik akan tercipta sistem angkutan yang lebih baik. Jasa angkutan harus memenuhi standar layanan yang baik serta adanya persaingan yang makin sehat di antara penyedia jasa angkutan.

Memasuki bulan Juni 2010 bersamaan dengan musim liburan, kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik di objek Monkey Forest Ubud cukup ramai. Kondisi ini bisa dilihat dari makin tingginya pemasukan yang diperoleh dari penjualan tiket masuk untuk wisatawan.

Sejak mulai liburan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik sudah cukup ramai. Pendapatan dari penjualan tiket masuk rata-rata di atas Rp 6 juta per hari. Tiap liburan terlebih di hari Sabtu dan Minggu, jumlah kunjungan wisatawan di objek wisata tersebut dipastikan ramai. Baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara yang sekarang didominasi wisatawan asal negara Asia.

Sementara wisatawan asal negara Eropa bulan ini tidak begitu banyak, jika dibanding dengan hari-hari sebelumnya. Dengan harga tiket sebesar Rp 20.000 per orang dewasa pendapatan dari penjualan tiket masuk rata-rata di atas Rp 6 juta per hari. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding dengan sebelum liburan.

Di objek wisata ini, wisatawan selain bisa bercengkerama dengan kera, yang jumlahnya terus makin bertambah. Di samping itu wisatawan dapat menyaksikan beberapa tanaman langka yang ada di Bali yang dikembangkan di kawasan hutan yang luasnya lebih dari 2 hektar itu.

Selain itu, ketertarikan wisatawan berkunjung ke objek wisata itu juga disebabkan oleh karena kera cukup jinak. Dengan demikian, wisatawan membiarkan kera naik ke punggungnya sambil menikmati buah pisang yang diberikan oleh pengunjung. Inilah kelebihan kera itu, jinak dan tidak nakal.

Adanya upaya pemerintah membatasi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk kendaraan roda dua, mendapatkan tanggapan dari pengelola angkutan pariwisata. Ketua Persatuan Angkutan Wisata Bali (Pawiba) mengatakan, pemerintah bisa saja membatasi penggunaan BBM bagi angkutan roda dua termasuk kendaraan mewah, tetapi angkutan pariwisata masih memerlukan BBM bersubsidi karena merupakan transportasi publik bagi masyarakat dan wisatawan.

Diharapkan agar pemerintah perlu memperjelas pembatasan penggunaan BBM bersubsidi untuk jenis kendaraan apa saja. Kendaraan pribadi yang berkelas mewah dan ber-cc besar mungkin sangat wajar diberikan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi. Hanya saja, angkutan pariwisata termasuk angkutan sewa masih sangat membutuhkan BBM bersubsidi.

Angkutan pariwisata dan angkutan sewa merupakan bagian dari angkutan umum tanpa trayek. Dalam operasional angkutan pariwisata, biaya BBM mengambil 30-40 persen dari total biaya operasional.

Jika pemerintah juga berencana membatasi penggunaan BBM bersubsidi untuk angkutan umum, hal tersebut tentunya akan sangat dikeluhkan pengusaha angkutan pariwisata di Bali. Dampak dari pembatasan penggunanaan BBM bersubsidi ini akan membatasi ruang gerak angkutan pariwisata. Bahkan, jika BBM untuk angkutan umum tidak disubsidi lagi akan berdampak pada kenaikan biaya BBM pada angkutan pariwisata.

Kenaikan biaya BBM pada angkutan pariwisata ini akan mendorong kenaikan tarif angkutan pariwisata termasuk angkutan sewa. Kenaikan tarif angkutan pariwisata otomatis akan menambah biaya paket tour dari biro perjalanan wisata (BPW) di Bali.

Selain itu, untuk setiap kenaikan komponen biaya tour termasuk biaya transportasi, mesti disampaikan jauh hari kepada biro perjalanan wisata (BPW). Ini dikarenakan, BPW menjual paket tour ini sudah beberapa bulan sebelumnya.

Dengan adanya dampak kenaikan biaya BBM akibat pencabutan subsidi BBM biaya paket tour ini juga wajib direvisi. Kenaikan biaya paket tour akibat kenaikan biaya transportasi secara mendadak ini, akan sangat dikeluhkan calon wisatawan. Peningkatan biaya paket tour juga akan mengurangi daya saing paket tour di Bali dengan paket tour kawasan wisata lain. Jika paket tour ini dijual terlalu mahal akan mengurangi animo wisatawan untuk berlibur ke Bali.

Sementara itu, pembatasan penggunaan BBM bersubsidi untuk kendaraan bermotor akan mengoptimalkan pemanfaatan angkutan Sarbagita di Bali yang telah dirancang pemerintah. Masyarakat juga bisa optimal menggunakan angkutan pariwisata untuk kegiatan tour /liburan, kegiatan persembahyangan, dan kegiatan upacara adat lainnya.

Selain itu, masyarakat yang sebelumnya menggunakan kendaraan bermotor atau kendaraan pribadi bisa memanfaatkan kendaraan umum. Ini termasuk mendorong pengoperasian angkutan pariwisata tidak hanya untuk transportasi wisatawan tetapi juga untuk transportasi masyarakat secara umum. Data jumlah armada bus pariwisata yang tercatat di Pawiba sebanyak 900 unit. Seluruh armada angkutan pariwisata ini bisa dimanfaatkan masyarakat lokal dan wisatawan untuk sarana transportasi untuk mengunjungi objek wisata, tempat persembahyangan termasuk keperluan lainnya.

Wisatawan Jepang yang berlibur ke Bali selama tiga bulan periode Januari-Maret 2010, tercatat 65.059 orang, turun 22,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 83.468 orang.

Meski mengalami penurunan cukup besar, Jepang tetap menempati urutan kedua terbanyak pemasok wisman ke Pulau Dewata setelah Australia. Kunjungan wisatawan Jepang dalam periode tersebut memberikan andil 11,54 persen dari total turis asing ke Bali sebanyak 563.778 orang.

Meski jumlah wisatawan Jepang ke Bali turun signifikan, namun total kunjungan turis asing selama tiga bulan pertama 2010 itu meningkat 14,95 persen dibanding periode sama 2009 hanya tercatat 490.450 orang.

Sementara jumlah masyarakat Jepang ke Bali selama 2009 tercatat 333.905 orang, berkurang 7,20 persen dari tahun 2008 sebanyak 359.824 orang.

Sementara itu, masyarakat Jepang dalam menikmati panorama alam serta keunikan seni budaya Pulau Dewata seluruhnya datang melalui Bandara Ngurah Rai, menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya. Tidak seorang pun yang datang lewat pelabuhan laut menggunakan kapal pesiar.

Dari sepuluh negara terbanyak pemasok wisman ke Pulau Dewata tahun 2009, tujuh negara mengalami peningkatan cukup signifikan dan tiga negara menurun. Tiga negara yang mengalami penurunan selain Jepang juga Korea Selatan, yakni 1,62 persen atau dari 28.865 menjadi 28.396 orang. Kemudian dari Malaysia berkurang 8,03 persen dari 29.954 menjadi 27.548 orang.

Tujuh negara yang mengalami peningkatan meliputi Australia 67,11 persen, Cina 3,92 persen, Taiwan 20,13 persen, Rusia 4,14 persen, Belanda 59,75 persen, Prancis 8,16 persen dan Jerman 23,96 persen.